Gila Kiu - Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengapresiasi sikap korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh YouTuber Gofar Hilman. Korban berinisial S berani membeberkan kasus pelecehan seksual yang dialaminya.
Menurut Komnas Perempuan, pengungkapan ini merupakan hal yang sulit dan membutuhkan keberanian untuk mengingat kembali pengalaman traumatis dan juga menghadapi serangan balik dari pengungkapannya.
"Serangan balik yang paling sering adalah justru menyalahkan korban, penyangkalan bahkan menuntut balik korban," kata Komisioner Komnas Perempuan Bahrul Fuad dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (11/6/2021).
Kekhawatiran menyertai korban pelecehan seksual oleh Gofar Hilman
Menurut Bahrul, sangat berani mengungkapkan dan menggambarkan kasus dengan pelaku yang merupakan seorang publik figur. Sebab, pada saat yang sama, hal-hal yang menjadi perhatian juga menyertai para korban.
Misalnya, sikap sejumlah pihak yang setuju dan menyemangati Gofar Hilman dengan pernyataan yang semakin menghina korban.
“Kondisi serupa ini sebetulnya kerap ditemukan dalam banyak kasus pelecehan seksual di ruang publik dan menjadi penghambat bagi korban untuk dapat melaporkan kasusnya sedari awal,” kata Bahrul.
Korban seksual Gofar Hilman mudah disalahkan
Bahrul menjelaskan, bagi perempuan, kerentanan pelecehan seksual dan dipersalahkan atas tindakan tersebut berakar pada diskriminasi berbasis gender yang menyebabkan perempuan berada pada posisi subordinat dan objek seksual.
Posisi perempuan sebagai simbol moralitas dalam masyarakat patriarki juga dimanfaatkan untuk melemahkan korban.
“Dengan posisi tersebut, perempuan gampang disalahkan dengan menggunakan latar belakang, gerak gerik, dandanan, cara busana dan lingkungan pergaulannya sebagai alasan pembenar tindak pelecehan seksual,” kata Bahrul.
Korban pelecehan seksual pasti mengalami dilema sebelum mengungkap kejadian tersebut
Kesulitan bertambah ketika korban pelecehan seksual adalah perempuan dengan disabilitas intelektual dan perempuan dengan disabilitas psikososial. Mereka jarang melaporkan kasus pelecehan yang mereka alami karena kurangnya pengetahuan mereka tentang perilaku yang dikategorikan sebagai pelecehan seksual.
“Di samping itu, faktor ketergantungan psikis, finansial dan sosial korban terhadap pelaku menyebabkan korban mengalami dilema untuk mengungkap kasus pelecehan seksual dan kekerasan seksual lainnya yang dialaminya,” kata Bahrul.
Sementara itu, menurut Bahrul, sangat sulit bagi korban pelecehan seksual untuk mendapatkan perlindungan. Belum ada payung hukum yang memadai, termasuk untuk mendukung pemulihan korban. Oleh karena itu, kasus-kasus yang terungkap semakin menunjukkan urgensi segera disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.
Komnas Perempuan mendukung pengungkapan kasus
Dari peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan Gofar Hilman, Komnas Perempuan mendorong aparat penegak hukum untuk menanggapi secara serius dan empati terhadap perempuan korban, serta mencegah kriminalisasi terhadap korban.
Menurut Bahrul, hal ini sangat penting dalam memastikan pelaksanaan tanggung jawab negara untuk memenuhi hak konstitusional warga negara, khususnya perempuan, atas perlindungan diri dan rasa aman, serta bebas dari diskriminasi atas dasar apapun.
Menyadari kesulitan yang harus dihadapi perempuan korban pelecehan seksual, Komnas Perempuan berharap pengungkapan kasus pelecehan seksual dapat mendorong perempuan korban lainnya untuk juga maju ke depan untuk melaporkan kasusnya.
“Komnas Perempuan mengajak semua pihak untuk mendukung upaya korban, dengan mendengarkan pengalaman mereka, jangan disudutkan dan distigma. Hal ini terutama karena pengungkapan kasus merupakan langkah awal mendukung upaya pemulihan korban, memutus impunitas, dan mencegah kejadian berulang,” kata Bahrul.
Korban pelecehan seksual oleh Gofar Hilman buka suara di media sosial
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang wanita dengan nama akun @quweenjojo di Twitter angkat bicara soal pengalaman tak menyenangkan yang dialaminya pada Agustus 2018 lalu.
Dalam postingan panjang yang diunggah pada 8 Juni 2021 pukul 22.03 WIB, wanita berinisial S itu menceritakan awalnya datang ke sebuah acara yang bintang tamunya adalah Gofar. Saat itu, pemilik akun ini tampil dengan niat keperluan Insta Story butuh pelukan dari Gofar.
Yang awalnya dikira hanya pelukan akrab, tiba-tiba tangan Gofar masuk ke dalam baju wanita itu dan memegang bagian tubuhnya yang sensitif.
Saat S masih syok dengan kejadian tersebut dan langsung meminta untuk dibebaskan, Gofar tidak mengindahkan permintaan tersebut dan mengaku tidak merasa bersalah sama sekali atas apa yang telah dilakukannya. Mengenai hal ini, S akhirnya berani angkat bicara agar hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Ketika kejadian itu terjadi, S mengatakan bahwa dia mendengar banyak pria menonton dan malah berteriak, "Dienakin kok gak mau?" bukannya menghentikan aksinya. Untungnya, ada satu orang yang akhirnya menarik dan menyelamatkannya dari Gofar dan kerumunan.
Meski sempat takut berbicara di media sosial, S berharap Gofar menyadari perbuatan tercelanya tiga tahun lalu dan tidak mengulanginya lagi kepada siapapun. Dalam unggahannya, ia juga mengingatkan semua orang untuk berhati-hati dalam mengambil tindakan, meski di ruang publik.


0 Komentar